Berasal dari bahasa Yunani phero yang artinya ‘pembawa’ dan mone ‘sensasi’. (feromon)

Feromon adalah sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat terhadap lawan jenis.

Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga menemukan hormon seks pada manusia yaitu estrogen, progesteron dan testosteron. Ketika pertama kali ditemukan pada serangga, feromon banyak dikaitkan dengan fungsi reproduksi serangga. Para Ilmuwan mula-mula melihat feromon adalah sebagai padanannya parfum di dunia manusia.

Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung/indra pencium. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.

Fenomena feromon sebagai bentuk komunikasi ini lama-lama mulai dicoba diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Terutama sejak ditemukan bahwa feromon juga dihasilkan kelenjar dalam tubuh manusia. Dan yang penting, bisa memengaruhi hormon-hormon dalam tubuh (terutama otak) manusia lainnya. Contoh paling mudah adalah “bau badan”.

Lepas dari jenis bau badan menyengat hingga bikin orang lain menjauh, setiap manusia punya bau yang khas dan menjadi ciri dirinya. Oleh para ahli dianalogikan bahwa bau badan itu seperti sidik jari. Jadi, kita masing-masing punya bau yang unik dan sangat berbeda dengan manusia lainnya. Dengan demikian feromon yang dihasilkan manusia, di masa depan bisa jadi salah satu identitas diri.

Feromon pada manusia ternyata juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengklaim bahwa feromon juga punya andil dalam menghasilkan perasaan suka, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya.

Ini mereka buktikan saat melakukan penelitian terhadap reaksi otak 12 pasang pria-wanita sehabis mencium bau senyawa sintetik mirip feromon. Bebauan tersebut langsung bereaksi terhadap hormon estrogen (pada wanita) dan hormon testoteron (pria).

Salah satu penelitian tentang fenomena feromon ini dilakukan oleh dua orang ahli asal Universitas Vienna yaitu Prof. Karl Grammer dan Astrid Juette.

Ada 66 pria menjadi relawan dalam penelitian tersebut. Tanpa disadari oleh para pria tersebut, senyawa sintetik mirip feromon dalam kadar tertentu ditebarkan di dalam ruangan. Kemudian mereka diperlihatkan foto sejumlah wanita sambil diperdengarkan suara wanita yang dilihatnya di dalam foto. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kadar testosteron pria akan meningkat setelah menghirup aroma feromon. Persepsi si pria terhadap menariknya seorang wanita di awali dengan pesan kimiawi yang dipancarkan dari tubuh seorang wanita.

Menurut Prof. Grammer, fenomena feromon telah ada di bumi sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Jika seorang wanita yang secara fisik kurang menarik, akan menebarkan pesonanya melalui feromon untuk menarik lawan jenisnya, sementara wanita yang memiliki fisik menarik tidak akan merasa terusik. Dengan cara itu, sistem feromon ini membantu seseorang untuk menemukan pasangan yang cocok secara biologis.

Saat ini dengan bantuan tehnologi, para peneliti telah berhasil menemukan feromon buatan yang berfungsi sama dengan feromon pada tubuh manusia dalam bentuk perfume.

Nasrullah Al Qash

Keren Abis

Gallery

Posted: Juli 26, 2011 in Uncategorized
Aroel

Keren